11
Des
08

Gara Gara Sendal Jepit Nenek Satu Cucu Dipenjarakan

Darwis >> Langkat

Hidup ini memang pahit, apalagi terlahir sebagai orang yang tidak mampu plus tidak berpendidikan. Salah sedikit ujungnya bisa berahir kepolisi dan pengadilan. Berbeda dengan nasib orang yang lebih beruntung seperti orang kaya, walau korupsi uang negara hingga ratusan juta, masih saja dapat menghirup udara segar diluar penjara.

Intinya kalau orang miskin dan bodoh, jangan pernah berurusan dengan hukum, sebab mata hukum tak ubahnya seperti mata pisau yang cuma memotong kebawah sedangkan yang atasnya selalu lolos. Begitu yang dialami Ulina Br Ginting (45) warga Dusun Telko, Desa Pembangunan, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat.

Hanya gara-gara ia menempelkan sendal jepit kewajah Ras Dame Karolina Br Banggun alias Santi (11), wanita yang telah dikarunai satu orang cucu inipun harus meringkuk didalam penjara membaur bersama penjahat lainya setelah orang tua Santi membuat laporan pengaduan ke Polsek Bohorok. Oleh polisi yang menerima laporan pengaduanya, Ulina Br Ginting disangkakan telah melangar Pasal 80 ayat (1) UU RI No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Meski dalam kasus ini banyak keganjilan, tapi perkaranya tetap saja disidangkan oleh majelis hakim yang diketuai Julius Panjaitan dengan jaksa penuntut umum (JPU) Maria F.R Br Tarigan SH . Dalam sidang ke 7 (tujuh) namun gagal digelar karena saksi yang mengeluarkan surat visum et revertum (VER) tidak hadir, ditemukan keganjilan seperti lamanya waktu laporan korban kepolisi atau tiga hari setelah kejadian korban baru melapor dan dikeluarkanya surat visum sebelum terjadinya peristiwa tersebut.

Menurut Malem Ukur Sitepu (51) suami Ulina Br Ginting yang ditemui POSMETRO MEDAN Selasa (l9/12) usai gagalnya sidang digelar, mengatakan kalau dalam kasus yang menimpa istrinya menjadi besar karena ditungangi orang ketiga. “ Saya tidak menyangka kalau kasus ini sampai berlanjut kemari (pengadilan-red), sebab, oleh kepala desa telah dilakukan jalan penyelesaian ketika itu, “ bilang Malem Ukur Sitepu.

Lantas Malem Ukur Sitepu mengisahkan awal terjadinya perkara yang semestinya dapat diselesaikan secara baik-baik ini mengingat diantara mereka (terdakwa dan korban-red) masih ada hubungan keluarga. Ceritanya, “ungkap Malem, bermula ketika istrinya (Ulina Br Ginting) baru pulang dari menghadiri undangan pesta. Saat itu tanggal 30 Juni 2008 sekitar jam 17.00 Wib.

Setibanya dirumah, terdakwa (Ulina Br Ginting) didatangi putri bungsunya Melisa Br Sitepu (5,5) tahun. Kepada terdakwa, Melisa mengaku kehilangan sendal jepit ketika bermain dirumah korban (Santi) yang masih kerabat dekat mereka. Oleh Ulina, langsung mendatangi kediaman korban yang jaraknya bersebelahan. Setibanya dirumah korban, Ulina lalu menanyakan kepada Santi apakah ada melihat sendal Melisa.

Waktu itu Santi mengaku tidak melihat sendal Melisa yang katanya hilang. Meski kesal, Ulina coba mencari kesekitar rumah, sewaktu mencari kesana kemari tadi, Santi membuntuti terdakwa dari belakang. Tidak berapa lama mencari ahirnya terdakwa menemukan sendal putrinya. Ketika itulah Ulina kembali bertanya kepada Santi mengapa menyembunyikan sendal Melisa.

Pertanyaan Ulina tersebut disambut tawa cengegesan oleh Santi. Kesal dilecehkan seperti itu, Ulina mendatangi Santi dan menempelkan sendal tersebut kebagian mulutnya. Awalnya tidak ada masalah karena Ulina tidak ada memukul Santi dengan sendal tersebut. Tapi teman-teman Santi yang lagi bermain, mengejek korban menyebabkan Santi menangis. Waktu itulah datang Nurcahaya Br Situmorang ibu Santi.

Kepada sang ibu korban mengaku telah dipukuli dengan sendal jepit oleh terdakwa. Tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, Nurcahaya Br Situmorang inipun mendatangi rumah kepala desa (Kades) setempat Zulkarnain Sitepu untuk menyampaikan masalah ini. Kepada kepala desa, Nurcahaya minta untuk menasehati Ulina Br Ginting agar tiak lagi mengulangi perbuatanya.

Saran dan harapan Nurcahaya tadi dilaksanakan oleh kepala desa. Ulina Br Ginting dan suaminya Malem Ukur Sitepu dipangil dan langsung dinasehati kepala desa. Setelah dinasehati dan dimarahi oleh kades, Ulina Br Ginting dan suaminya mengira persoalan ini telah selesai. Tapi perkiraan mereka salah. Selang tiga hari kemudian, Ulina dipangil Polisi sektor (Polsek) Bohorok sebagai tersangka kasus penganiayaan terhadap anak dibawah umur.

Oleh juru periksa (Juper) Briptu Rudi, wanita yang tidak bisa baca tulis inipun disuruh menandatangi sebuah berkas perkara yang ia sendiri tidak mengetahui isinya. Seiring dengan itu berkas perkara Ulina pun bergerak naik kekejaksaan. Anehnya, surat visum et revertum (VER) yang dikeluarkan dari Klinik Melati ditandatangani Dr. Alwi T Nasution sebulan setelah kejadian tersebut atau tanggal 29 Juli 2008.

Parahnya lagi, di nomor surat VER tadi juga terdapat keganjilan seperti nomor Visum yang waktunya mundur alias visum dikeluarkan sebelum terjadinya peristiwa. Hal ini dapat dilihat dari nomor visum bernomor : 320/KM/VER/III/2008 tanggal 29 Juli 2008. Kuat dugaan surat visum yang dikeluarkan oleh Klinik tersebut rekayasa semata. Pasalnya, dari visum tadi juga menyimpulkan korban mengalami bengkak pada bibir sebelah atas dan kepala.

Karena banyaknya keganjilan pada visum tadi, majelis hakim meminta kepada JPU untuk menghadirkan dokter yang memeriksa korban ketika itu. “ Kepada jaksa, tolong hadirkan dokter itu, kita mau mendengar keteranganya,” perintah hakim. Sementara pengakuan korban dalam persidangan beberapa waktu lalu mengaku kehilangan 3 gigi akibat dipukul terdakwa dengan sendal jepit.

Sedangkan Kepala desa Pembangunan Zulkarnain Sitepu dalam kesaksiannya dihadapan hakim mengaku tidak menyangka masalah yang dialami warganya ini menjadi meruncing seperti ini. “ Saya tidak mengira masalahnya jadi seperti ini, sebab korban waktu itu mendatangi saya dan meminta untuk menasehati terdakwa, cuma itu saja. Dan “Saya bersumpah demi anakku kalau terdakwa tidak ada memukul korban dengan sendal sampai giginya patah tiga, kalau ada, anakku satu-satunya tidak selamat, lagipula tidak mungkin dipukul sendal giginya bisa patah, sekuat tenagapun kalau saya pukul korban tidak mungkin bisa patah giginya, paling bibirnya saja yang luka.” Ketus Kades kesal.

Besarnya kasus yang menimpa Ulina Br Ginting menurut keluarga memang sengaja dibesar-besarkan oleh seorang oknum yang mengaku dari LSM. “ Seharusnya oknum yang mengaku LSM itu menjadi orang tenggah sebagai jembatan menyelesaikan masalah ini bukan sebaliknya menjadi provokator, apalagi kita dengar oknum tersebut ikut sebagai caleg (Calon anggota legislatif), macamana mau jadi wakil rakyat kalau pola pikirnya seperti ini.” Ujar N Sitepu seraya menambahkan sidang lanjutan terdakwa akan digelar Kamis mendatang.(darwis)


0 Responses to “Gara Gara Sendal Jepit Nenek Satu Cucu Dipenjarakan”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kalender Tulisan

Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Administratur

Photobucket

Kontibutor :

Darwis, Aswin, Fachruddin, Fandi Photobucket darwis pos metro

Banner Anti Korupsi

Photobucket banner bahaya laten korupsi

Link Berita :

Photobucket

Komunitas Blogger Sumut

Yang Mampir:

  • 267,159 pengunjung
Locations of visitors to this page [URL=http://flagcounter.com/more/Bqu][IMG]http://flagcounter.com/count/Bqu/bg=FFFFFF/txt=000000/border=CCCCCC/columns=2/maxflags=12/viewers=0/labels=0/[/IMG][/URL]

%d blogger menyukai ini: