15
Jan
09

Gambar Pasien Miskin yang Diborgol Petugas RS.Latersia Binjai

Binjai, Semar News

Tragis, kisah yang dialami Ramli Sembiring (1 8) warga Pasar IV Idaman Hati, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, pada Tahun Baru kedua 2009 lalu, saat dirinya dibawa oleh keluarga tersangka Lilik Tarigan (25) warga Pasar IV Idaman Hati, Padang Cermin, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat ke RSU Latersia, Jalan Soekarno-Hatta Km 18, Kecamatan Binjai Timur, yang melayaninya bak pelaku kriminal yang akan melarikan diri, hingga tangannya diborgol pada terali tempat tidur yang ada di lantai II RS tersebut.

Inilah RAMLI Sembiring(18), warga Pasar IV Idaman Hati, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, yang diborgorl petugas RSU Latersia Binjai selama 5 hari karena kemiskinannya/photo Asawin/Semar News/Binjai

Inilah RAMLI Sembiring(18), warga Pasar IV Idaman Hati, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, yang diborgorl petugas RSU Latersia Binjai selama 5 hari karena kemiskinannya/photo Asawin/Semar News/Binjai

Kepada Semar News, Ramli yang merupakan anak ke 3 dari 6 bersaudara pasangan Nampati Sembiring (63) dan Roslina (54) menceritakan kesedihannya, hingga dikarenakan tangan digari oleh seorang yang berperawakan tegap berambut cepak, dan berbadan tinggi itu, dirinya terpaksa harus membuang kotoran dekat tempatnya tidur, “Aku kesini Bang Tahun baru malam, udah tahun baru kedua malamnya aku kesini, yah sampe sekarang ini bang, mereka borgol tanganku katanya nanti aku lari karena biaya perobatan belum dibayar, sementara yang mengantar aku kemari haritu ya itu Bapak dan Mamaknya si Lilik, tapi begitu aku diantar kemari haritu, malamnya mereka langsung meninggalkan aku disini, alasannya saat itu ada keluarganya yang juga sedang operasi, orangtu bilang katanya nanti datang lagi, tapi nyatanya sampe sekarang aku masuh disini bang, dan mereka nggak pernah datang-datang lagi” beber Ramli.

Lanjut Ramli, “Aku masuk pertama kali ke RS ini pertamanya dikasih makan dikasih obat, bukan diruangan ini bang, tapi dibawah, begitu aku sampai diruangan lantai II ini, tanganku langsung diborgol, karena katanya mereka takut aku lari, ya itu petugas yang borgol itu nanya ke aku, keluargamu mau bayar nggak, yang langsung dijawab korban dengan anggukan mau” dan kemudian petugas itu terus memaksa korban untuk segera membayar administrasi biaya perobatan sebesar Rp 6.963.000,- .

“Cemanalah Pak, Keluargaku belum ada uang, dan kemarin yang membawa aku kemari kan keluarga Lilik Bang, jadi aku nggak tahulah bang, karena mereka yang berjanji akan membiayai perobatan aku ini bang” bilang korban kepada petugas yang berambut cepak dan berbadan tegap itu yang kemudian menyuruh korban menghubungi pihak keluarga Lilik dan saat dihubungi nomor tersebut tidak aktif, kejadian itu sontak membuat korban panik dibentak oleh petugas tersebut, “Jadi cemana kau ini, kau diborgol aja ya”, pertanyaan petugas itu dijawab korban dengan mengucapkan “Janganlah Pak” yang dibalas petugas itu dengan langsung memborgol tangan korban ke jeruji tempat tidurnya sambil berkata “Kalo kau lari kek mana, siapa yang mau tanggung jawab” bilang Ramli menirukan ucapan petugas RS yang tak perduli dengan jawaban korban.

Korban terus memohon kepada petugas RS agar tangannya jangan diborgol “Janganlah Pak, tangan aku sakit pak, belum lagi ini tanganku yang hampir mau putus ini, nggak mungkinlah aku lari Pak”usaha korban memohon sia-sia petugas tersebut tak bergeming hatinya, sambil berdiri senyum sinis dengan tangan bersila didada petugas tadi mengucapkan “Udah seratus orang yang ngomong kek kau ini tak peduli aku” terang korban menirukan ucapan petugas tersebut.

Selama diborgol itu, 5 hari korban tak diberi makan oleh pihak RS, “Lima hari aku disini cuma semalamlah (11/1) aku makan, itupun karena dibawa oleh keluargaku, kalo keluargaku nggak datang ya aku nggak makan-makan” ucap korban sambil mengatakan bahwa borgol itu dilepas ya semalam juga, karena Bapakku bilang pihak berwajib akan datang melihat aku diborgol makanya orang RS cepat-cepat melepas borgol sambil menunjuk kearah laki-laki tinggi kurus, kepala plontos, yang saat ditemui kru koran ini mengaku bernama Joko dan bekerja sebagai pengawas bangunan.

Ramli menceritakan dulunya orang tua Lilik yang bernama Iyem dan Slamet, yang berjanji kepada suster sini untuk membayar perobatanku, bahkan kata orang tua lillik itu kepada aku, “Kalo nanti ada yang nanya kau bilang aku orang tuamu ya, kata mereka. Dan saat ditanya oleh suster tangan ku ini kenapa, orang tua lilik bilang “Kena parang babat” tapi langsung ku tepis, dah gitu masak dibilang orang itu juga (Ortu Lilik-red) “Orang tuaku dah meninggal” terang Ramli.

Buntut dari permasalahan itu, orang tua korban Minggu (11/1) melaporkan hal yang terjadi terkait pemborgolan yang dilakukan petugas RSU Latersia, ke Mapolresta Binjai dengan No.Pol :LP/21/I/2009/ SPK-A tanggal 11 Januari 2009.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Binjai, dr. T Murad Alfuad saat mengunjungi RSU Latersia mengatakan, Apa yang dilakukan oleh RSU Latersia dalam melakukan pemborgolan kepada pasien yang tak mampu , menyalahi dari fungsi sosial yang ada dalam Rumah Sakit, “Saya sangat menyayangkan pelayanan yang ada di RSU Latersia ini, dan telah menyalahgunakan fungsi sosial yang seharusnya dikedepankan, dimana pasien harus terlayani dengan baik, baik itu di RS Swasta maupun Pemerintah, apabila si pasien tidak mampu, kan tidak semestinya melakukan hal yang demikian, tidak ada istilah pasien tidak mampu tidak dilayani, apa yang dilakukan ini telah melanggar HAM dan perbuatan ini akan kita proses secara hukum, dari fungsi sosial RSU Latersia ini yang akan kita tuntut melalui Dinas Kesehatan Tingkat I, dimana dalam hal ini kita akan memeriksa izin sementara dari RS ini, apakah RSU Latersia sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Terkait masalah ini, Direktur RSU Latersia, dr. David Tambun saat dikonfirmasi Semar News, mengatakan dirinya tidak mengetahui adanya pasien RS ini yang diborgol, “Kalau setahu saya malah saya pikir dari data yang saya lihat pasien ini sudah keluar pada tanggal 6 Januari lalu, makanya saya tidak tahu, coba anda tanya saja sendiri dengan pasiennya, pernah nggak ngeliat saya dalam beberapa hari ini, dan mengenai ini saya ketahui tadi pagi, itupun saya di telepon dr. Fuad yang mengatakan perihal tentang ini” terangnya.

Saat ditanya mengenai adanya ketentuan apabila pasien yang tidak mampu membayar sekarang harus di borgol, David mengatakan, “Memang ada ketentuan melalui peraturan internal yang disampaikan kepada paramedis di RSU Latersia, dimana kalau pasien yang bermasalah harus ditunggui dan diawasi, karena kalau ada pasien yang pulang tanpa sepengetahuan perawat, segala biaya perobatannya selama di RSU Latersia ini akan ditanggung perawat yang bersangkutan, karena sudah pernah terjadi ada pasien yang pulang sebelum membayar biaya perobatan dan itu menjadi tanggung jawab perawat untuk mengganti biaya perobatan dari pasien yang pulang itu, mengenai pemilik borgol David tidak mengetahui siapa pemilik borgol tersebut, jawabannya singkat “Ya itu milik security lah, tapi saya nggak tahu” bilangnya.

Diluar daripada itu, pada kesempatan yang berbeda, dr T Murad Alfuad terkait izin RSU Latersia menerangkan bahwa untuk proses di Tingkat I yakni mengenai izin operasional Rumah Sakit, sedangkan Tingkat II mengenai pembinaan rekomendasi pendirian dan pembangunan Rumah Sakit, dan dari kedua ini, terkait permasalahan diatas maka secara tidak langsung pihak Dinas Kesehatan akan meninjau perizinan RSU Latersia dari Tingkat I maupun Tingkat II. Sementara Direktur RSU Latersia saat ditanya tentang izin yang disebutkan tadi tidak mampu menjawab dan terlihat gugup.

Berawal Dari Dipanggil, Tak Terima Dan Tersinggung

Kejadian yang menimpa Ramli hingga tangan kanannya dibacok oleh rekan swatu kerjaannya, berawal mereka berdua merupakan pekerja bongkar muat balok yang berada di Desa Durianmuluh, saat itu terjadi perselisihan dan pertengkaran mulut antara tentang trip bongkar muat kayu balok, “Saat itu masuk sebuah truk balok trip dia (Lilik-red), karena aku dengan dia satu kampung, nggak apalah aku panggilkan si Lilik, aku panggil dia, namun saat aku panggil dia sudah dua kali Lilik tidak nyahut juga dia bang, ketiga kalinya aku bilang sama dia, Lek kau kek nggak kau hargai aku ngomong udah dua kali kau ku panggil nggak kau sahuti, namun niat baik korban memanggil rekannya ditanggapi lain oleh tersangka dengan membalasnya, nggak usah kau panggil aku, ucap tersangka kepada korban dengan nada keras.

Mendengar nada keras dari tersangka, korban jadi heran, merasa sahutan tersangka bernada marah, korban kemudian memanggil kubu bongkar muat yang lain, menganjurkan agar membongkar balok yang merupakan trip si tersangka, kemudian korban bersama kubu yang dipanggil kornam dengan nama Pak tengah itu, berjalan mendekati truk yang akan dibongkar, namun saat itu tersangka menyalak dengan nada keras kepada korban,”Kau koq mau ngomong jangan keras-keras kau” bilang tersangka kepada korban, yang kemudian menjawab “Aku kan tadi bagus-bagus ngomong denganmu Lek, jangan gitulah, namun tersangka tidak senang, dan turun dari sepeda motornya langsung memukul kepala korban dengan tangannya.

Merasa dipukul mentah, korbanpun mengadakan perlawanan dengan mendekap dan kemudian memiting kepala tersangka, perekelahian itu sempat dilihat oleh kakak korban Tina Br Sembiring (20) yang memisah perkelahian keduanya, korban pun melepaskannya dan kemudian pergi meninggalkan tersangka dan masuk kedalam sebuah warung, selang beberapa lama, tersangka mendatangi korban ke warung itu dengan membawa sebilah parang panjang yang diambilnya dari rumahnya, melihat situasi itu korban langsung lari, namun terus dikejar oleh tersangka yang kemudian membacokkan parang tersebut.

Korban yang merasa jiwanya terancam berusaha melawan dengan mengambil kayu rambutan untuk menangkis parang tersangka, kayu yang dipegang korban terputus akibat sabetan parang tersangka, yang kemudian mengayunkan parangnya kearah kepala korban, namun secara spontan berhasil ditangkis korban dengan menggunakan tangannya, yang mengakibatkan tangannya sebelah kanan nyaris putus akibat bacokan parang tersangka.

Warga yang melihat kejadian tersebut, berhamburan datang ke TKP namun tersangka terus melarikan diri. Guna memberikan pertolongan bagi korban dari tangan yang berlumuran darah, korban langsung dibawa ke RS Bidanina, Simpang Durianmuluh, Kecamatan Kuala, Simpang Lau Gunumg untuk berobat kampung, RS Indra Pasar II Padang Cermin, Kecamatan Selesai dan setelah rembuk dengan pihak keluarga tersangka yang berjanji akan membiayai pengobatan korban, yang kemudian membawa korban ke RSU Latersia Binjai.(Aswin)


1 Response to “Gambar Pasien Miskin yang Diborgol Petugas RS.Latersia Binjai”


  1. 1 ojek pendukung kaki 5
    April 23, 2010 pukul 3:17 am

    ada apa dengan negara nich….
    saya siap jadi activis anti penindasan…
    walaupun nyawa saya taruhannya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Kalender Tulisan

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Administratur

Photobucket

Kontibutor :

Darwis, Aswin, Fachruddin, Fandi Photobucket darwis pos metro

Banner Anti Korupsi

Photobucket banner bahaya laten korupsi

Link Berita :

Photobucket

Komunitas Blogger Sumut

Yang Mampir:

  • 267,159 pengunjung
Locations of visitors to this page [URL=http://flagcounter.com/more/Bqu][IMG]http://flagcounter.com/count/Bqu/bg=FFFFFF/txt=000000/border=CCCCCC/columns=2/maxflags=12/viewers=0/labels=0/[/IMG][/URL]

%d blogger menyukai ini: